Beberapa hari yang lalu saya bersama dua teman, singgah disebuah rumah makan didaerah Sunter, Jakarta untuk menikmati menu andalan bebek lombok ijo. Tenang dulu sahabat, tulisan saya kali ini bukan soal wisata kuliner karena saya cukup mengenal kemampuan indera pengecap saya jelas masih kalah jauh dari Bondan Winarno jadi saya pilih untuk membagikan pengalaman yang tak kalah bernilai yang sudah saya dapat kepada sahabat dunianyawira semua…
Rumah makan yang saya kunjungi kemaren mempunyai tingkat peminat yang amat tinggi, sehingga tidak heran jika lokasi ini pun menjadi salah satu lahan favorit pebisnis kecil kecilan seperti pedagang asongan, penjual DVD, penjaja kerupuk dan tidak luput para pengamen yang notabene salah satunya justru menjadi salah satu sumber pelajaran kita kali ini karena saya percaya yang namanya belajar tidak perlu mempedulikan siapa gurunya selama pelajaran yang diberikan baik secara langsung atau tidak bisa membuat kita menjadi lebih baik…
Ceritanya dimulai dari sini…Kebetulan malam itu kami bertiga tidak membawa cukup banyak uang kecil. Salah satu teman saya yang sudah bekerja sampai level manajer jelas punya alasan kenapa dalam kantongnya tidak ada sama sekali uang receh kemudian teman saya yang lain, seorang wanita cuma membawa satu pecahan 500rp mungkin dengan alasan uang receh bisa bikin dompet lebih cepat rusak. Nah untungnya saya mengantongi uang cepekan (100rp) sebanyak lima keping, sebenarnya saya mau bawa lebih banyak tapi saya juga punya alasan yang amat kuat kenapa tidak saya lakukan karena celengan ayam dikost saya belom yang model portable yang bisa dijinjing kemana mana seperti lap top hehehehe belom lagi demi membawa uang recehan tersebut saya harus rela tidak membawa dompet biar tidak tambah berat
( sengaja mau minta traktir sih aslinya )
Adegan pertama dimulai sekarang…Rombongan pengamen pertama, berisi 4 atau 5 orang lelaki muda bermodal sebuah gitar plus satu buah kantong plastic sisa permen langsung mampir dimeja sebelah kami. Dengan suara yang lumayan merdu mereka menyanyikan salah satu lagu dari grup band dalam negri yang saya lupa namanya tapi kalau penggalan syairnya masih saya ingat, begini “tidak ada yang peduli…” tetapi sayang lagu yang mereka bawakan hanya dibalas dengan lambaian lembut tangan pelanggan dimeja sebelah. Pantang menyerah!! Saya yakin kata kata itu yang diucapkan mereka serempak dalam hati begitu mendapat penolakan yang pertama. Pelajaran kesatu dari para pengamen untuk kita semua sahabat, Jangan mau kalah dengan penolakan penolakan kecil. Dengan semangat yang tetap membara, mereka pindah kemeja kami dan kali ini masih dengan jurus dan syair yang sama “tidak ada yang peduli…” kesempatan berikutnya mereka berhasil memindahkan pecahan 500an dari tangan teman saya kedalam pundi plastic bekas permen mereka. Bravo! Tau aja mereka kalo wanita lebih sensitive jadi lebih cepat peduli
Adegan kedua, antara saya dan pengamen berikutnya… Pengamen yang ini memilih untuk bersolo karier, karena melihat usianya yang sudah mendekati 40th pasti alasannya tuntutan ekonomi yang lebih besar jadi mendingan rejeki dibagi dengan anak dan istri. Setelah mendarat tepat disisi kiri meja kami, dia langsung bersenandung lagu lama sesuai dengan masa mudanya dulu jadi syairnya tidak saya kenali apalagi penyanyi aslinya lebih susah untuk saya tebak. Cepat cepat saya ulurkan tangan berisi sekeping cepekan langsung kegenggamannya. Karena saya pikir kami masih akan berada dirumah makan itu paling tidak untuk 40 menit kedepan jadi saya harus menyimpan kepingan kepingan yang lain untuk pengamen pengamen berikutnya, itung itung berbagi rejeki dengan yang lain juga. Namun apa yang terjadi? Begitu dilihat yang saya berikan cuma uang cepek, dengan wajah amat kesal uang tersebut diletakkan kembali dimeja kemudian dia langsung saja berlalu tanpa senyum secuil pun meninggalkan dua teman saya yang setengah mati kaget dan saya yang mati kaget beneran
Sambil menunggu bebek lombok ijo merampungkan ritualnya di wajan penggorengan sebelum menuju meja makan kami, akhirnya kami mendapat topic pembicaraan seru yang terus berlanjut menjadi perdebatan hangat. Teman manajer saya bilang, “Ini Jakarta bro, bukan Jogja. Mana ada pengamen mau terima uang cepekan, nggak dilempar balik tadi aja kita udah untung tuh. Bisa dikira menghina bro”. Saya langsung berkelit, “Mana bisa begitu, yang namanya mengamen itu menghibur jadi saya kasih imbalan berdasarkan seberapa perasaan saya merasa terhibur. Kalau emang maunya minimal gopek, kenapa nggak pasang tarif aja pake papan atau disablon dibajunya kalo perlu”. Mendengar perbincangan ini, teman wanita saya menimpali “Lagi pula kalau setiap pengunjung yang memberi 100rp ditolak, coba hitung aja lima orang ditolak sudah sama dengan menolak 500rp kan”. “Setuju banget…emang nggak pernah tau strategi pemasaran tuh pengamen” saya langsung manyahut sambil manggut manggut karena dapat dukungan hehehe. Pelajaran kedua, syukurilah berapa pun rejeki yang kita terima karena tidak ada kerja keras yang sia sia.
Sahabat, sekali lagi lewat tulisan ini saya tidak bermaksud menghakimi siapa pun karena dari mereka yang mungkin kita anggap salah, justru dari sana kita bisa belajar untuk memperbaiki diri kita sendiri
Untuk sahabat saya yang baru, pengamen anti cepekan
terima kasih atas pelajaran berharga dalam hidup yang singkat ini..lain waktu saya siapin gopekan ya…
Semoga semua mahkluk berbahagia….
wira wang