dunianyawira

menjaga kesadaran mencapai kebahagiaan

12-24-11

Bersamamu…

Posted by dunianyawira

Baru semalam kemarin, aku bisa memandangmu begitu dekat atau jika kau yang mengucapkan dalam bentuk verbal pasti akan jadi “terlalu dekat”. Tidak ada masalah bagiku, karena memang sudah terlalu sering kita berdua dibodohi dengan segala aturan linguistik

Menjadi penikmat wajahmu dalam keadaan gelap tidak merubahku seolah menjadi seorang barista yang sedang berjuang mati matian menemukan  racikan kopi  pertamanya atau menjadikan aku seorang ahli anggur yang dilanda dilema ketika dihadapkan dengan anggur terbaik tahun 1988, terlalu sayang untuk dilewatkan namun takut kehilangan kesadaran ketika meminumnya. Karena kecantikanmu teramat sederhana, sesederhana komposisi susu jahe di kedai kaki lima

Tidak perlu disajikan dalam cangkir termahal, tidak harus dinikmati bersama sepasang lilin diatas meja. Cukup diatas selembar tikar dengan gelas plastik yang dibeli lusinan, namun setiap tegukkannya memberi kehangatan yang akhirnya hanya mampu membuat kita mengangguk tanpa perlu berkata apa apa. Dan memandangmu sedekat ini pun tidak membuatku kehilangan kesadaran, cukup selalu hanya porsi  cukup  yang terbawa dalam setiap kehadiranmu. Tapi aku masih percaya, kamu pasti mengandung unsur jahe

Sekarang kau pasti sudah pergi jauh dalam pejamnya matamu, sampai kau benar benar tak peduli ujung hidungku tinggal satu mili dari ujung milikmu bahkan kau tak peduli ketika awalnya kita saling berebut oksigen  hingga akhirnya kita menghirup yang sama, dan sekarang kita sudah senafas
p.s :”Ya ya…aku tau itu hanya harapanku, aku masih bisa mendengarnya meski kau mengucapnya dalam hati baru saja”

Kau pasti masih ingat, bait ini..’Saat matahari belum menghangatkanmu, Saat segala urusan dunia belum memanggilmu, Bahkan saat gigimu masih bermentega, Biarkan aku jadi yang pertama…’
Ahh tak perlu aku lanjutkan lagi dalam tulisan, karena dalam dua atau tiga kali putaran jarum jam panjang, kau akan terjaga. Membuka kelopak mata perlahan, dan aku jadi yang pertama mengucap selamat pagi sembari mengecup kecil keningmu. Terkejut, sudah pasti ekpresi itu yang akan aku dapat nantinya tapi tak mengapa karena aku yakin setelah itu senyum pertamamu pun akan jatuh padaku……

tanpa lilin…..

Wang

Bookmark/share via AddInto

Sejenak saya mengajak anda untuk mengamati napas anda sendiri. Perhatikan setiap tarikan dan hembusannya, lakukan terus selama cukup 3 menit saja. Sudah?
Hmm…satu pertanyaan untuk anda sekarang, jika saya meminta anda untuk memilih salah satu. Mana yang lebih penting bagi anda, menarik napas atau menghembuskannya?
Tidak perlu buru buru untuk menjawabnya, renungkan sesaat!
Menarik napas lebih penting, lebih berguna bagi anda? Menghembuskan napas lebih penting, lebih berguna bagi anda? Tidak keduanya, benar tidak ada yang lebih penting karena dua hal ini sama persis pentingnya
Bagaimana mungkin seseorang menarik napas terus menerus tanpa menghembuskannya kembali atau bisakah seseorang menghembuskan napas sebelum menariknya terlebih dahulu

Bernapas adalah kegiatan paling mendasar yang sudah kita lakukan sejak pertama kita mempunyai kehidupan, bahkan tanpa seorang pun perlu mengajarkan, mengingatkan apalagi memerintahkan sudah pasti kita mengulang siklus ini. Tapi mungkin baru sekarang kita bisa mendapatkan pelajaran paling berharga disini. DUALITAS
Kehidupan duniawi kita juga tak pernah bisa lepas dari konsep dualitas seperti napas kita. Adanya hembusan karena tarikan napas sebelumnya, tarikan napas mutlak memerlukan hembusan berikutnya. Seberapapun kuat kita menarik napas, kita akhirnya harus melepasnya dan seberapapun tangguhnya kita menghembus, kita harus menariknya kembali
Dalam kegiatan kita sehari sehari jika kita mau melihat dengan lebih bening juga akan terlihat pola yang sama. Tidak akan bisa kita menentukan sesuatu lebih baik kalau kita tidak pernah melihat yang lebih buruk, tidak mungkin kita memilih cuaca hangat sebelum merasakan kedinginan, mana ada orang sukses tanpa orang gagal disisi lainnya, kita mengerti arti cinta sesungguhnya justru dari adanya kata benci

Memahami ini semua, sekarang masihkah kita harus terus terikat dengan salah satu sisinya. Pikiran dan perasaan kita dipermainkan oleh dualitas ini. Kita begitu bahagia saat dunia memihak pada kita lalu selang kemudian kita tersedu ketika dunia berpaling dari kita. Jika memang anda ingin menangis, menangislah saat anda sejahtera karena itu tidak akan berlangsung selamanya seperti tarikan dan hembusan napas yang selalu datang dan pergi. Saat kita jatuh cinta, terucap kata tak bisa hidup tanpanya hingga tiba masanya orang yang kita cintai berubah sangat mudah kita berkata tidak bisa menghabiskan sehari lagi dengannya. Ironis sekali bukan?

Beberapa mungkin bertanya, lantas tidak penting lagi kah melakukan kebaikan, tidak ada gunanya lagi kah mengejar kesuksesan, sia sia kah mencintai seseorang? Bukan sekali lagi bukan itu maksud saya. Disini saya mengajak untuk melihat segalanya dengan lebih jernih, lebih bijaksana dan ketika kita sudah memahami adanya dualitas maka tak perlu lagi kita terikat pada salah satu sisinya. Ketika kita berbuat kebaikan tak perlu kita ingat ingat terus menerus, supaya saat hal buruk menimpa kita juga tidak akan menjadi trauma. Saat mencapai kesuksesan jangan terlalu berbangga diri apalagi angkuh sehingga ketika kegagalan menghampiri kita tidak terpuruk terlalu dalam. Bila kita mencintai seseorang jangan terlalu menggenggamnya agar saat tiba waktunya berpisah kita tidak limbung kehilangan arah untuk melangkah selanjutnya

Luangkan sejenak waktu kita untuk belajar dari napas kita, agar kita bisa menarik semua yang kita butuhkan tanpa rasa serakah lantas menghembuskan semua dengan kerelaan yang anggun…

Semoga semua berbahagia….

Wira Wang

Bookmark/share via AddInto

Pagi hari kali ini cukup mengejutkan bagi saya dan semua orang di negri ini bahkan rasanya juga bagi semua umat dibelahan bumi mana pun. Dua buah bom yang meledak di hotel bintang lima, JW Marriot dan Ritz Carlton keduanya dikawasan mega kuningan Jakarta jelas berhasil membawa semua rakyat Indonesia bernostalgia dengan kenangan kenangan pahit serupa.

Melihat hal ini rasanya kita semua akan bertanya, masihkah belum cukup semua masalah yang menimpa bangsa ini? Mulai dari berbagai bencana seperti tragedy Lumpur Lapindo yang tak kunjung jelas penyelesaiannya kemudian disusul jebolnya tanggul Situ Gintung yang menelan korban cukup banyak masih diimbuhi lagi dengan dampak krisis global yang membuat perekonomian kita terjun bebas dan masih terlalu banyak lagi untuk kita sebutkan atau kita ingat satu per satu. Dan sekarang saat kita semua sedang berjuang untuk terus memperbaiki diri, kenapa masih ada saja pihak pihak yang ingin memperkeruh keadaan?

Jika kita mau melihat jauh lebih dalam kedalam diri kita masing masing maka kita akan menemukan asal mula semua peristiwa ini pasti karena ketidak puasan diri kita sendiri terhadap kehidupan ini sehingga tanpa berpikir panjang lagi kita mampu melakukan hal hal yang bisa merugikan orang lain. Padahal rasa tidak puas, rasa iri, dan rasa takut itu bekerja seperti lumpur dalam rawa rawa, semakin keras kita mencoba melarikan diri justru semakin cepat kita tenggelam dan akhirnya lenyap.

Karena itu sahabat, satu langkah pasti yang harus kita ambil sebelum semuanya terlambat dan menjadi bertambah parah adalah menyadari semuanya kemudian dengan penuh kebesaran hati kita hadapi semua satu per satu. Dan itu semua harus kita mulai dari diri kita sendiri terlebih dahulu sebelum kita mengingatkan orang lain, seperti sebuah ucapan berikut : “ If you want the earth to become a planet of peace, you must become a person of peace “ Jika kita ingin bumi ini menjadi planet kedamaian, sebaiknya kita membuat diri kita menjadi manusia penuh kedamaian….

Semoga semua mahkluk berbahagia

wira wang

Bookmark/share via AddInto

Beberapa hari yang lalu saya bersama dua teman, singgah disebuah rumah makan didaerah Sunter, Jakarta untuk menikmati menu andalan bebek lombok ijo. Tenang dulu sahabat, tulisan saya kali ini bukan soal wisata kuliner karena saya cukup mengenal kemampuan indera pengecap saya jelas masih kalah jauh dari Bondan Winarno jadi saya pilih untuk membagikan pengalaman yang tak kalah bernilai yang sudah saya dapat kepada sahabat dunianyawira semua…

Rumah makan yang saya kunjungi kemaren mempunyai tingkat peminat yang amat tinggi, sehingga tidak heran jika lokasi ini pun menjadi salah satu lahan favorit pebisnis kecil kecilan seperti pedagang asongan, penjual DVD, penjaja kerupuk dan tidak luput para pengamen yang notabene salah satunya justru menjadi salah satu sumber pelajaran kita kali ini karena saya percaya yang namanya belajar tidak perlu mempedulikan siapa gurunya selama pelajaran yang diberikan baik secara langsung atau tidak bisa membuat kita menjadi lebih baik…

Ceritanya dimulai dari sini…Kebetulan malam itu kami bertiga tidak membawa cukup banyak uang kecil. Salah satu teman saya yang sudah bekerja sampai level manajer jelas punya alasan kenapa dalam kantongnya tidak ada sama sekali uang receh kemudian teman saya yang lain, seorang wanita cuma membawa satu pecahan 500rp mungkin dengan alasan uang receh bisa bikin dompet lebih cepat rusak. Nah untungnya saya mengantongi uang cepekan (100rp) sebanyak lima keping, sebenarnya saya mau bawa lebih banyak tapi saya juga punya alasan yang amat kuat kenapa tidak saya lakukan karena celengan ayam dikost saya belom yang model portable yang bisa dijinjing kemana mana seperti lap top hehehehe belom lagi demi membawa uang recehan tersebut saya harus rela tidak membawa dompet biar tidak tambah berat :) ( sengaja mau minta traktir sih aslinya )

Adegan pertama dimulai sekarang…Rombongan pengamen pertama, berisi 4 atau 5 orang lelaki muda bermodal sebuah gitar plus satu buah kantong plastic sisa permen langsung mampir dimeja sebelah kami. Dengan suara yang lumayan merdu mereka menyanyikan salah satu lagu dari grup band dalam negri yang saya lupa namanya tapi kalau penggalan syairnya masih saya ingat, begini “tidak ada yang peduli…” tetapi sayang lagu yang mereka bawakan hanya dibalas dengan lambaian lembut tangan pelanggan dimeja sebelah. Pantang menyerah!! Saya yakin kata kata itu yang diucapkan mereka serempak dalam hati begitu mendapat penolakan yang pertama. Pelajaran kesatu dari para pengamen untuk kita semua sahabat, Jangan mau kalah dengan penolakan penolakan kecil. Dengan semangat yang tetap membara, mereka pindah kemeja kami dan kali ini masih dengan jurus dan syair yang sama “tidak ada yang peduli…” kesempatan berikutnya mereka berhasil memindahkan pecahan 500an dari tangan teman saya kedalam pundi plastic bekas permen mereka. Bravo! Tau aja mereka kalo wanita lebih sensitive jadi lebih cepat peduli :)

Adegan kedua, antara saya dan pengamen berikutnya… Pengamen yang ini memilih untuk bersolo karier, karena melihat usianya yang sudah mendekati 40th pasti alasannya tuntutan ekonomi yang lebih besar jadi mendingan rejeki dibagi dengan anak dan istri. Setelah mendarat tepat disisi kiri meja kami, dia langsung bersenandung lagu lama sesuai dengan masa mudanya dulu jadi syairnya tidak saya kenali apalagi penyanyi aslinya lebih susah untuk saya tebak. Cepat cepat saya ulurkan tangan berisi sekeping cepekan langsung kegenggamannya. Karena saya pikir kami masih akan berada dirumah makan itu paling tidak untuk 40 menit kedepan jadi saya harus menyimpan kepingan kepingan yang lain untuk pengamen pengamen berikutnya, itung itung berbagi rejeki dengan yang lain juga. Namun apa yang terjadi? Begitu dilihat yang saya berikan cuma uang cepek, dengan wajah amat kesal uang tersebut diletakkan kembali dimeja kemudian dia langsung saja berlalu tanpa senyum secuil pun meninggalkan dua teman saya yang setengah mati kaget dan saya yang mati kaget beneran :)

Sambil menunggu bebek lombok ijo merampungkan ritualnya di wajan penggorengan sebelum menuju meja makan kami, akhirnya kami mendapat topic pembicaraan seru yang terus berlanjut menjadi perdebatan hangat. Teman manajer saya bilang, “Ini Jakarta bro, bukan Jogja. Mana ada pengamen mau terima uang cepekan, nggak dilempar balik tadi aja kita udah untung tuh. Bisa dikira menghina bro”. Saya langsung berkelit, “Mana bisa begitu, yang namanya mengamen itu menghibur jadi saya kasih imbalan berdasarkan seberapa perasaan saya merasa terhibur. Kalau emang maunya minimal gopek, kenapa nggak pasang tarif aja pake papan atau disablon dibajunya kalo perlu”. Mendengar perbincangan ini, teman wanita saya menimpali “Lagi pula kalau setiap pengunjung yang memberi 100rp ditolak, coba hitung aja lima orang ditolak sudah sama dengan menolak 500rp kan”. “Setuju banget…emang nggak pernah tau strategi pemasaran tuh pengamen” saya langsung manyahut sambil manggut manggut karena dapat dukungan hehehe. Pelajaran kedua, syukurilah berapa pun rejeki yang kita terima karena tidak ada kerja keras yang sia sia.

Sahabat, sekali lagi lewat tulisan ini saya tidak bermaksud menghakimi siapa pun karena dari mereka yang mungkin kita anggap salah, justru dari sana kita bisa belajar untuk memperbaiki diri kita sendiri

Untuk sahabat saya yang baru, pengamen anti cepekan :) terima kasih atas pelajaran berharga dalam hidup yang singkat ini..lain waktu saya siapin gopekan ya…

Semoga semua mahkluk berbahagia….

wira wang

Bookmark/share via AddInto

Suatu hari saya naik sebuah taxi dan menuju ke Bandara. Kami melaju
pada jalur yang benar ketika tiba-tiba
sebuah mobil hitam melompat keluar dari tempat parkir tepat di depan
kami. Supir taxi menginjak pedal rem dalam-dalam hingga ban mobil
berdecit dan berhenti hanya beberapa cm dari mobil tersebut

Pengemudi mobil hitam tersebut mengeluarkan kepalanya &mulai menjerit
ke arah kami. Supir taxi hanya tersenyum & melambai pada orang orang
tersebut. Saya benar-benar heran dengan sikapnya yang bersahabat. Maka
saya bertanya, “Mengapa anda melakukannya? Orang itu hampir merusak
mobil anda dan dapat saja mengirim kita ke rumah sakit!” Saat itulah
saya belajar dari supir taxi tersebut mengenai apa yang saya kemudian
sebut “Hukum Truk Sampah”

Ia menjelaskan bahwa banyak orang seperti truk sampah. Mereka berjalan
keliling membawa sampah, seperti frustrasi, kemarahan, kekecewaan.
Seiring dengan semakin penuh kapasitasnya, semakin mereka membutuhkan
tempat untuk membuangnya, & seringkali mereka membuangnya kepada anda.
Jangan ambil hati, tersenyum saja, lambaikan tangan, berkati mereka,
lalu lanjutkan hidup

Jangan ambil sampah mereka untuk kembali membuangnya kepada orang lain
yang anda temui, di tempat kerja, di
rumah atau dalam perjalanan. Intinya, orang yang sukses adalah orang
yang tidak membiarkan “truk sampah” mengambil alih hari-hari mereka
dengan merusak suasana hati

Hidup ini terlalu singkat untuk bangun di pagi hari dengan penyesalan, maka:
Kasihilah orang yang memperlakukan anda dengan benar, berdoalah bagi yang tidak.
Hidup itu 10% mengenai apa yang kau buat dengannya dan 90% tentang
bagaimana kamu menghadapinya

Hidup bukan mengenai menunggu badai berlalu, tapi tentang bagaimana
belajar menari dalam hujan

semoga semua mahkluk berbahagia

dikirim oleh sahabat dunianyawira, Leo via email


dunianyawira

Bookmark/share via AddInto

Anda dan saya bukan individu yang mempunyai keterbatasan dan kecemasan seperti yang kita yakini. Karena sesungguhnya kita memiliki kasih sayang, kesadaran, dan mempunyai kemampuan sempurna untuk mencapai yang terbaik, bukan untuk diri kita sendiri tetapi juga untuk semua orang dan semua hal yang bisa kita bayangkan

Satu satunya masalah adalah kita tidak menyadari keistimewaan yang kita miliki ini. Kebanyakan orang, termasuk kita terlanjur memiliki keyakinan yang salah tentang siapa diri kita sesungguhnya. Hal ini dibentuk oleh kebiasaan dan juga dihasilkan oleh gambaran tentang diri kita sendiri yang hampir selalu diekspresikan dengan istilah istilah dualistis, seperti kesenangan dan kepedihan, memiliki dan tidak memiliki, bagus dan jelek. Padahal sesungguhnya semua itu hanya sebatas istilah istilah dasar untuk bertahan

Sayangnya, ketika pikiran diisi dengan cara pandang dualitas membuat semua pengalaman, bahkan kesenangan dan kebahagiaan terikat oleh keterbatasan. Selalu ada “tetapi” yang mengganggu dibelakang. Seperti “tetapi” yang menyangkut perbedaan. “Oh, pesta ulang tahun saya sungguh meriah, tetapi sebenarnya saya lebih senang kue coklat daripada kue wortel”. Lalu ada “tetapi” yang lebih baik. “Saya suka rumah baru saya, tetapi rumah teman saya lebih besar dan mewah”. Dan akhirnya ada “tetapi” jenis ketakutan. “Saya tidak tahan lagi terhadap pekerjaan saya, tetapi dengan keadaan sekarang, bagaimana saya bisa mendapatkan pekerjaan yang lain?”

Para ahli di bidang psikologi dan neurosains, seperti Fransisco Varela, Richard Davidson, dll. Menyatakan bahwa perasaan terbatas, cemas, takut, dan sebagainya hanyalah gosip gosip neuron (saraf) saja. Mereka pada dasarnya, adalah kebiasaan. Dan kebiasaan bisa diubah!

Sebagai sedikit ilustrasi tentang pemahaman kita selama ini terhadap kondisi pikiran kita seperti ini. Bayangkan jika kita adalah seorang pemburu harta karun. Suatu hari, anda menemukan sebongkah logam didalam tanah. Anda gali sebuah lubang lalu mengeluarkan logam tersebut, membawanya pulang kemudian mulai membersihkannya. Pertama tama, salah satu sudut bongkahan yang sudah kita bersihkan nampak bersinar lantas perlahan lahan ketika kita selesai membersihkan semua tanah yang menutupinya, bongkahan tersebut ternyata sebongkah emas

Yang jadi pertanyaan sekarang, mana yang lebih berharga, bongkahan emas yang terkubur dalam tanah atau bongkahan yang sudah kita bersihkan? Sebenarnya, nilai keduanya sama. Perbedaan antara bongkahan yang kotor dengan yang bersih hanyalah dipermukaan saja

Jika harta yang tak akan pernah habis dikubur dalam tanah dibawah rumah seorang miskin, penghuninya tidak akan tahu, dan harta tersebut tidak akan pernah berbicara dan mengatakan padanya “Saya ada disini!”

the joy of living - Yongey Mingyur Rinpoche

dunianyawira

Bookmark/share via AddInto
02-27-09

antara dua dunia #1

Posted by dunianyawira

     Kondisi ruangan yang baru saja aku masuki belum begitu ramai tapi tidak lengang. Bangsal berbentuk hampir bujur sangkar ini sengaja memasang pencahayaan yang redup, sudah pasti untuk mendukung suasana berkabung agar bertambah syahdu atau berguna juga untuk menyembunyikan raut muka dengan pipi becek bekas air mata. Tidak ada sambutan meriah buatku, sudah seharusnya begitu. Hanya beberapa senyuman atau anggukan kecil tertuju padaku dari mereka para kebarabatku yang sudah cukup lama tidak aku jumpai. Kepergian untuk tak pernah kembali dari seorang wanita, seorang ibu, seorang nenek dan moyang dari kami semua akhirnya mengumpulkan lagi keluarga besar ini. Dalam satu ruangan yang sama dengan sebuah perasaan duka yang sama meski aku yakin kadar rasa kehilangan satu sama lain tidak ada yang sama. Kabar kematian dari mulut kemulut memang selalu lebih ampuh dari selembar undangan pernikahan termewah sekali pun.

Usai membalas senyum dan anggukan serta berbagi jabat tangan kilat, aku mendudukan diriku diatas sebuah kursi berbahan seng tipis yang dilumuri cat warna kuning gading, disampingku berkumpul beberapa anggota keluarga laki laki termasuk ayahku, sedang bercakap cakap. Diarah seberang, aku menemukan kelompok lain keluarga ini juga sedang berbincang, kelompok yang ini diisi para perempuan. Tanpa perlu mempertajam pendengaran, aku sudah tahu apa yang sedang mereka bahas, semua bercerita tentang kenangan kenangan indah bersama wanita yang sekarang terbujur diam, kaku dan tenang dalam sebuah kotak persegi panjang berhias pita putih dan bunga anggrek yang diletakkan ditengah tengah bangsal sebagai pusat perayaan terakhir kami untuk melepas kepergiannya. Aku sama sekali tidak tertarik dengan epik cerita jenis ini.

     Aku menyapu seisi ruangan dengan pandanganku, sampai aku berhenti pada satu sosok wanita yang duduk disamping peti, sendirian. Sepertinya dia tidak tertarik untuk bergabung dengan salah satu kelompok tadi atau mungkin kedua kelompok itu yang tidak mengundangnya. Baginya ada yang jauh lebih penting untuk dikupas, dicerna lalu segera ditelan dari rasa kehilangan ini. Sudah dalam kurun waktu tahunan yang lalu saat aku terakhir menjumpainya. Aku memilih untuk memperhatikan dia dari tempat dudukku saja, wanita itu tampil teramat sederhana hingga memudahkan siapa saja untuk mengabaikan keberadaannya. Dalam balutan kain bermotif bunga bunga dengan model sack dress yang agak menyempit dibagian pinggang, untuk urusan yang satu ini dia memang selalu konsisten. Dari jaman sack dress muncul jadi trend terus hilang dari peredaran dan sekarang kembali menjadi trend, dia tidak pernah berganti model jahitan untuk baju bajunya. Aku jadi menebak nebak, berapa usianya sekarang? Mungkin tidak ada satu pun dari keluarga besarku yang ingat dengan pasti usianya.

Tatapanku turun kearah genggaman tangannya, dia sedang memainkan sepotong sapu tangan disana lantas beberapa detik berikutnya sapu tangan itu segera kembali kesarangnya, dibalik baju pada bagian dada. Kebiasaannya ini juga belum hilang rupanya. Lalu aku coba menengok rambutnya, sisa sisa gelombang rambutnya yang sedikit ikal masih bisa kulihat cukup jelas meski jutaan rambut dikepalanya sekarang tinggal ratusan ribu menurutku. Helai helai rambut hitamnya sekarang juga tampak harus berjuang lebih keras, berebut lahan dengan uban yang serakah, ingin tumbuh lebih lebat diatas kulit kepala yang sudah mulai menua. Perubahan paling mencolok yang bisa aku tangkap dengan sepasang mata kasatku.

Read the rest of this entry »

Bookmark/share via AddInto
02-14-09

Selamat Datang…

Posted by dunianyawira

Selamat datang di dunianyawira, dunia sederhana tempat belajar menjaga kesadaran mencapai kebahagiaan

Tulisan pertama ini akan saya gunakan untuk mengucapkan banyak terima kasih kepada kang odie yang sudah dengan sangat sabar membantu saya untuk “bedol blog” kerumah baru ini juga buat mas FN yang ikut memberi banyak petunjuk dan pencerahan. Untuk sahabat saya, doraemon yang mencarikan theme penuh insipirasi ini katanya juga buat kafhinyster yang berhasil mendorong buat pindah rumah :) dan buat semua sahabat dunianyawira yang tidak saya sebutkan satu per satu

Harapan saya, lewat blog ini saya bisa lebih banyak lagi berbagi dengan semua sahabat dan semoga semua mahkluk berbahagia

 

menjaga kesadaran mencapai kebahagiaan

dunianyawira

Bookmark/share via AddInto
pursuit of happiness

pursuit of happiness

Seiring bumi yang terus berputar mengitari matahari membuatku berteman dengan terang dan bersahabat dengan malam. Dari bagian mikro siklus kehidupan ini kutemui serpihan kisah perjalanan seorang pengelana berjubah sederhana…

Pengelana terus berjalan kearah barat mencari pelita kesadaran untuk mencerahkan wajah dunianya yang sedang dihiasi awan mendung bagai kelambu tipis diatas peraduan. Aroma wangi tanah sehabis hujan pun tak mampu melumerkan bongkahan hati yang terlanjur beku dalam dinding kesunyian 

Sesaat ia teringat pada pertemuannya dengan peri bermahkota berlian, walaupun hanya berjumpa sekedipan mata namun sorot mata sang peri terlukis begitu jelas. Begitu pula harum tubuhnya terus melekat di indera penciuman pengelana dan kilau berlian dibalik butiran butiran debu itu sungguh sukar dilupakan. Pengelana kian terbuai dan membiarkan angan itu melayang bebas lepas 

Sekarang perbedaan arah yang mereka tempuh telah menciptakan jarak yang amat jauh diantara kedua jiwa itu dan ketika pengelana tersadar, cepat cepat ia pecahkan gelembung lamunan diatas kepalanya lalu ia berteriak keras keras pada dirinya sendiri dalam hati “Kau tak pantas untuknya! Buka matamu, beraninya engkau bermimpi tentang peri dengan mahkota berlian sedangkan dirimu terlahir dalam diri seorang pengelana yang hanya berbalut jubah sederhana!“

Read the rest of this entry »

Bookmark/share via AddInto
10-24-08

Hukum Rata Rata

Posted by dunianyawira

Teori ini pertama kali saya baca beberapa tahun yang lalu tapi dari buku apa tepatnya saya sama sekali lupa :). Kemudian langsung saya terapkan pada usaha saya waktu itu hingga sekarang yang bergerak dibidang retail sepatu dan baju olah raga. Dan ternyata yang mempraktekkan hukum rata rata ini pun tidak sedikit hanya saja mungkin sebagian dari mereka belum paham betul cara memaksimalkannya

Disini yang ingin saya bagikan adalah bagaimana teori ini sangat berpengaruh pada bidang marketing/sales untuk suatu barang atau jasa karena dengan menggunakan teori ini peningkatan angka penjualan tidak akan menjadi suatu kesulitan kita lagi

Sebagai seorang penjual/sales sebelum kita berhasil menjual produk kita tentu saja kita harus melakukan penawaran terlebih dulu kepada para calon pembeli kita. Nah dari jumlah produk yang berhasil kita jual jika dibagi dengan jumlah penawaran yang pernah kita buat maka akan kita dapatkan nilai rata rata penjualan kita, ilustrasinya begini “ditoko sepatu saya untuk menjual 1 pasang sepatu biasanya saya melakukan penawaran kepada 10 orang calon pembeli yang singgah ditoko saya sehingga nilai rata rata penjualan toko sapatu saya adalah 1:10 = 0.1 “

Perhitungan seperti ini bisa kita lakukan untuk bisnis apa aja, seperti saya amati selama ini misalnya seorang penjual Koran diperempatan jalan yang sering kita temui. Mereka juga punya nilai rata rata, perhatikan saja mungkin mereka harus melakukan penawaran dahulu kepada 4 orang pengendara yang berhenti pasa saat lampu merah sebelum mereka mendapatkan 1 orang pembeli jadi nilainya 1:4 = 0.25. Pengamen punya nilai rata rata, Supermarket punya nilai rata rata, toko emas punya nilai rata rata, dokter dan pengacara punya nilai rata rata bahkan seorang pengemis pun punya nilai rata rata

Sebelum saya lanjutkan, silakan ambil kertas dan ballpoint dahulu lalu hitung nilai rata rata untuk usaha anda, apa pun jenis usaha anda pasti ada nilai rata ratanya! Lantas apa yang harus kita lakukan setelah kita tahu nilai rata rata penjualan kita? Pasang target. Seperti saya memberikan target untuk menjual 10 pasang sepatu tiap harinya, karena nilai rata rata penjualan toko saya adalah 0.1 maka untuk mencapai nilai penjualan 10 yang perlu saya lakukan hanya melakukan penawaran kepada 100 orang/hari. Gampang kan?

Sekarang silakan tulis lagi dibawah nilai rata rata penjualan yang sudah anda hitung tadi, berapa target yang ingin anda capai saat ini

Anda mungkin bertanya dalam hati “Wah..cape donk kalo mesti ngoceh ngoceh tiap hari sama 100 orang atau lebih untuk mencapai target yang ditentukan kan sudah pasti tidak semua orang yang saya tawari langsung membeli. Mendingan saya pastikan dulu kalo memang kelihatannya berminat baru saya follow up lebih jauh tapi kalo mereka cuma liat liat aja kan buang buang tenaga saya”. Hmm..pertanyaan yang wajar bagi saya karena itu saya sudah menyiapkan jawabannya untuk anda  Pola pikir seperti itu menurut saya hanya salah satu misconception, kenapa saya bilang begitu?

Read the rest of this entry »

Bookmark/share via AddInto

Welcome to my site and this a few lines about me.you can edit the text here by modifying the about.php file in the theme.Fusce magna risus, facilisis ut, condimentum eu, mattis.