Sejenak saya mengajak anda untuk mengamati napas anda sendiri. Perhatikan setiap tarikan dan hembusannya, lakukan terus selama cukup 3 menit saja. Sudah?
Hmm…satu pertanyaan untuk anda sekarang, jika saya meminta anda untuk memilih salah satu. Mana yang lebih penting bagi anda, menarik napas atau menghembuskannya?
Tidak perlu buru buru untuk menjawabnya, renungkan sesaat!
Menarik napas lebih penting, lebih berguna bagi anda? Menghembuskan napas lebih penting, lebih berguna bagi anda? Tidak keduanya, benar tidak ada yang lebih penting karena dua hal ini sama persis pentingnya
Bagaimana mungkin seseorang menarik napas terus menerus tanpa menghembuskannya kembali atau bisakah seseorang menghembuskan napas sebelum menariknya terlebih dahulu
Bernapas adalah kegiatan paling mendasar yang sudah kita lakukan sejak pertama kita mempunyai kehidupan, bahkan tanpa seorang pun perlu mengajarkan, mengingatkan apalagi memerintahkan sudah pasti kita mengulang siklus ini. Tapi mungkin baru sekarang kita bisa mendapatkan pelajaran paling berharga disini. DUALITAS
Kehidupan duniawi kita juga tak pernah bisa lepas dari konsep dualitas seperti napas kita. Adanya hembusan karena tarikan napas sebelumnya, tarikan napas mutlak memerlukan hembusan berikutnya. Seberapapun kuat kita menarik napas, kita akhirnya harus melepasnya dan seberapapun tangguhnya kita menghembus, kita harus menariknya kembali
Dalam kegiatan kita sehari sehari jika kita mau melihat dengan lebih bening juga akan terlihat pola yang sama. Tidak akan bisa kita menentukan sesuatu lebih baik kalau kita tidak pernah melihat yang lebih buruk, tidak mungkin kita memilih cuaca hangat sebelum merasakan kedinginan, mana ada orang sukses tanpa orang gagal disisi lainnya, kita mengerti arti cinta sesungguhnya justru dari adanya kata benci
Memahami ini semua, sekarang masihkah kita harus terus terikat dengan salah satu sisinya. Pikiran dan perasaan kita dipermainkan oleh dualitas ini. Kita begitu bahagia saat dunia memihak pada kita lalu selang kemudian kita tersedu ketika dunia berpaling dari kita. Jika memang anda ingin menangis, menangislah saat anda sejahtera karena itu tidak akan berlangsung selamanya seperti tarikan dan hembusan napas yang selalu datang dan pergi. Saat kita jatuh cinta, terucap kata tak bisa hidup tanpanya hingga tiba masanya orang yang kita cintai berubah sangat mudah kita berkata tidak bisa menghabiskan sehari lagi dengannya. Ironis sekali bukan?
Beberapa mungkin bertanya, lantas tidak penting lagi kah melakukan kebaikan, tidak ada gunanya lagi kah mengejar kesuksesan, sia sia kah mencintai seseorang? Bukan sekali lagi bukan itu maksud saya. Disini saya mengajak untuk melihat segalanya dengan lebih jernih, lebih bijaksana dan ketika kita sudah memahami adanya dualitas maka tak perlu lagi kita terikat pada salah satu sisinya. Ketika kita berbuat kebaikan tak perlu kita ingat ingat terus menerus, supaya saat hal buruk menimpa kita juga tidak akan menjadi trauma. Saat mencapai kesuksesan jangan terlalu berbangga diri apalagi angkuh sehingga ketika kegagalan menghampiri kita tidak terpuruk terlalu dalam. Bila kita mencintai seseorang jangan terlalu menggenggamnya agar saat tiba waktunya berpisah kita tidak limbung kehilangan arah untuk melangkah selanjutnya
Luangkan sejenak waktu kita untuk belajar dari napas kita, agar kita bisa menarik semua yang kita butuhkan tanpa rasa serakah lantas menghembuskan semua dengan kerelaan yang anggun…
Semoga semua berbahagia….
Wira Wang


